Review Drama Korea Matrimonial Chaos (2018)

Serupa judulnya drama korea Matrimonial Chaos mengisahkan pernikahan yang karut marut yaitu antara Jo Seok-Moo (Cha Tae-Hyun) dan Kang Whee-Roo (Bae Doo-Na) yang dilanda krisis setelah lebih dari dua tahun menikah tapi hampir setiap hari mereka bertengkar disebabkan perkara sepele

Seok-Moo dengan “obsesif kompulsif”-nya tidak sanggup menghadapi Whee-Roo yang serampangan dalam pelbagai hal. Dari wastafel kamar mandi yang tidak pernah dibersihkan selepas dipakai, menyeka meja dengan kain yang salah, telat datang menonton di bioskop, dan hingga akhirnya eksistensi sang istri menjadi beban baginya. Sementara itu Seok-Moo dipandang Whee-Roo selalu memikirkan dirinya sendiri dan tidak menyukai keberadaan orang lain. Hal-hal kecil yang dilakukannya pun selalu luput dari perhatian Seok-Moo. Dan ini lambat-laun menyakiti perasaannya.

Tidak berbeda dengan kondisi mereka, Jin Yoo-Young (Lee El) yang baru saja menikah telah mendapati suaminya, Lee Jang-Hyun (Son Seok-Koo) kerap berselingkuh dengan sejumlah wanita. Alih-alih marah, kecewa atau sedih malah ia memutuskan diam dan tidak peduli karena merasa dirinya bahagia dengan keadaannya sekarang. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Seok-Moo, yang merupakan mantan pacarnya. Ini menambah masalah baru bagi kedua pasangan ini karena Whee-Roo menyadari suaminya masih mencintai Yoo-Young. Dua pasangan ini lalu bersama-sama secara jenaka menelusuri bersama apa itu arti pernikahan, keluarga, dan cinta.

Drama korea Matrimonial Chaos mengisahkan kekacauan pernikahan dengan polemik kepribadian pasangan yang saling bertolak belakang, namun saling mencintai, tapi keduanya pun tak bisa berada dalam satu ruangan sama.

Di ujung lain ada satu pasangan yang belum bisa berdamai dengan masa lalu mereka hingga saling menyakiti satu sama lain tanpa mereka sadari. Alih-alih menggurui mengenai makna penting pernikahan, drama korea satu ini tampak berusaha menarasikan bagaimana perceraian dan perselingkuhan hinggap dalam bahtera rumah tangga, dan kadang rasa tidak peduli bukan wujud cinta atau kebahagiaan melainkan sedih dan kecewa yang tak berkesudahan. Bisakah kita berdamai dengan pasangan masing-masing? Bisakah kita menemukan kebahagiaan?

Paradoks Pernikahan dalam Matrimonial Chaos

Perseteruan rumah tangga kerap direpresentasikan sebagai kekacauan yang disebabkan entah itu sang suami atau sang istri. Sang suami cenderung diposisikan kasar, tidak peka dan suka berselingkuh. Dan sang istri cenderung feminin, “pasrah” atau hanya suka menuntut saja. Model drama semacam ini cenderung memproblemasitirkan duduk perkara kepada satu tokoh, entah itu menyudutkan si suami atau istri.

BACA JUGA  Impresi Awal Drama Korea Hotel del Luna (2019)

Namun, drama korea Matrimonial Chaos berusaha keluar dari lingkaran seperti itu dengan menyajikan cerita tentang pernikahan yang kompleks dan rumit.

Hal yang secara konsisten ada dalam drakor ini adalah adanya refleksi diri setiap karakter secara kritis bahwa mereka tidak lebih baik, dan sama buruknya dengan pasangan mereka. Alih-alih berusaha menjadi “pemenang”, ke empat karakter utama ini menyadari  diri mereka tidak sempurna dan pernikahan mereka gagal disebabkan kegagalan berkomunikasi.

Contohnya Seok-Moo yang merasa dirinya sempurna dan memandang Whee-Roo tidak bisa memahami dirinya. Berbeda ketika ia bersama Yoo-Young yang dirasakan mampu mengenal dirinya secara utuh, sekaligus ditambah banyak kesamaan di antara mereka berdua. Namun, Yoo-Young ternyata menyimpan kebencian kepadanya bahkan ia mengharapkan mantan pacarnya itu mati. Seok-Moo menyadari masalah ketidakmampuan ekspresi dan komunikasinya selalu menjadi bumerang dan petaka bagi orang lain.

Begitu pula dengan Whee-Roo yang akhirnya mengajukan perceraian karena merasa suaminya itu tidak pernah memperhatikan dirinya, tidak memahami mimpi-mimpinya, dan selalu saja meremehkan dirinya. Rasa sakit itu pelan-pelan menggumpal menjadi kebencian, namun Whee-Roo akhirnya menyadari ia juga tidak mengenal sang suami dengan baik, tidak menyadari penderitaan suaminya, tidak mengetahui bahwa Seok-Moo mempunyai mimpi yang akhirnya dikubur dalam-dalam. Mereka tidak tahu satu sama lain dengan baik.

Sebagaimana Oh Ki Wan (Lee Jong-Hyuk) sampaikan kepada Whee-Roo bahwasanya semakin kita dekat dengan seseorang semakin sukar kita untuk mengenalnya. Karena kita selalu melihat orang itu dari dekat dan selalu tak utuh. Analogi ini sangat fair dalam melihat paradoks pernikahan karena baik sang istri maupun sang suami bisa jadi sama-sama bersalahnya dan memiliki kekurangan masing-masing.

Pola serupa ini juga hadir pada hubungan Yoo-Young dan Jang-Hyun. Yoo-Young yang memilih diam pun lambat-laun sadar betapa menyedihkan dan naifnya dia. Ia menafikan segala kecemburuan dan penderitaannya agar tidak menyinggung dan menyakiti suaminya. Sementara itu, Jang-Hyun yang “ling lung” ini pun menerima kenyataan bahwa ia bersalah dan masa lalu yang menderanya bukan pembenaran atas semua kezalimannya.

BACA JUGA  Review Drama Korea The Fiery Priest (2019)

Mereka akhirnya harus kembali menghadapi masa lalu untuk berusaha memaafkan diri mereka masing-masing. Keputusan Yoo-Young menerima kembali suaminya pun tidak hadir begitu saja, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa Jang-Hyun adalah peselingkuh dan sifat itu sulit atau bahkan tidak akan pernah berubah sama sekali.

Sebagaimana juga Jang-Hyun menyadari rasa cinta Yoo-Young kepadanya telah terkikis hingga nyaris tak tersisa. Dan kini mereka berdua harus pelan-pelan menata itu semua dari awal. Dua pasangan ini menggambarkan kondisi pernikahan yang kompleks, rumit, juga multi layer sebagaimana manusia itu sendiri, dan semua disajikan dengan baik dalam drama korea Matrimonial Chaos.

Homoseksualitas dalam Drama Korea Matrimonial Chaos

Cukup berbeda dengan drakor lainnya yang mengusung genre komedi-romantis, Matrimonial Chaos sedikit berani menampilkan karakter dengan orientasi seksual lesbian, yaitu Joo Soo-Kyoung (Ha Yoon-Kyoung). Sayangnya, karakter ini tidak mendapatkan porsi berimbang jika dibandingkan dengan kisah tokoh utamanya yang heteroseksual.

Homoseksualitas kembali diletakkan sebagai “bumbu penyedap” saja. Ini juga bisa dianalisis pada tokoh Kang Ma-Roo (Kim Hye-Jun) yang diposisikan dalam dimensi konotatif sehingga menghasilkan insufisiensi semiotik. Apakah ia memang seorang lesbian dan sedang jatuh cinta kepada teman sekamarnya sendiri, Soo-Kyoung?

Meskipun beberapa adegan seolah menggambarkan demikian tetapi karena tidak ada satu pernyataan eksplisit keluar dari karakter ini mengenai seksualitasnya (berbeda dengan Soo-Kyoung) maka kita tidak bisa beranggapan demikian.

Industri hiburan, terutama di Asia memang cenderung enggan menggunakan tokoh LGBTQ+ sebagai tokoh utama mereka. Kebanyakan drama atau film Asia cenderung membuat tokoh LGBTQ+ ini selalu mengalami dilema atas orientasi seksualnya, atau ketakutan-ketakutan atas keputusan melela, dan juga penerimaan keluarga, teman, atau masyarakat sekitarnya yang kerap berujung negatif.

Sebagaimana Han-Yang, tokoh lesbian di dalam drama korea matrimonial chaos ini pun hanya diperlihatkan bahwa eksistensi mereka “ada” tapi akan selalu berada di luar tatanan masyarakat yang ada.

Here some clips from Matrimonial Chaos:

Bae Doo Na crying because her marriage is over and it’s painful AF
Yoo-Young’s realizing how painful her life is after fully accepting that she can hurt because of Jang-Hyun affair
Leave A Response

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: