Review Drama Korea Sweet Munchies (2020)

Review Drama Korea Sweet Munchies (2020)_kukuhgiaji

Drama korea Sweet Munchies (2020) menjadi drakor pertama di tahun 2020 yang mengangkat karakter homoseksual sebagai tokoh dan sekaligus jalan cerita utamanya. Walau begitu, drama terbaru JTBC ini malah gagal dalam merepresentasikan isu LGBTQ+ akibat ceritanya yang dipenuhi klise (baca: tidak masuk akal).

Plot Sweet Munchies

Kang Tae-Wan (Lee Hak-Joo) dalam Sweet Munchies

Drakor ini mengisahkan Park Jin-Sung (diperankan Jung IL-Woo), seorang koki yang mengelola restoran tengah malam dan terpaksa mengaku sebagai gay agar bisa mendapatkan peran sebagai koki gay di acara televisi produksi Kim A-Jin (diperankan Kang Ji-Young) berjudul ‘Sweet Munchies’. Padahal, Jin-Sung adalah seorang laki-laki heteroseksual yang juga memiliki perasaan untuk A-Jin.

Di sisi lain, Kang Tae-Wan (diperankan Lee Hak-Joo) adalah seorang desainer ternama dan seorang gay yang belum melela ‘coming out’ yang perlahan-lahan menyukai Jin-Sung karena melihat keberaniannya untuk tampil sebagai gay di acara televisi publik. Seiring berjalannya waktu, Jin-Sung, A-Jin, dan Tae-Wan pun terjebak dalam kisah cinta segitiga.

Mengapa Tidak Masuk Akal?

Lee Hak Joo dalam Sweet Munchies
Lee Hak Joo dalam Sweet Munchies

Drama korea Sweet Munchies jelas sangat tidak masuk akal karena bagaimana mungkin ada seorang laki-laki heteroseksual mau mengakui dirinya sebagai homoseksual hanya karena uang semata.

Alkisah, alasan Jin-Sung nekat untuk mengakui dirinya sebagai gay karena harus membayar biaya pengobatan ayahnya serta menembus uang sewa restorannya. Musibah itu membuatnya gelap mata.

Menariknya, tokoh Jin-Sung ini mempunyai seorang adik laki-laki, Park Jin-Woo (diperankan Choi Jae-Hyun) yang notabenenya adalah seorang gay dan Jin-Sung pun mengetahui itu. Jadi, sekali lagi bagaimana bisa Jin-Sing berpura-pura menjadi gay yang dimana ia harusnya paham betapa berat kehidupan seorang homoseksual di negara-negara kawasan Asia, termasuk Korea Selatan.

Tidak hanya itu saja, tokoh A-Jin juga ditemukan sangat problematik. Sebagai penggagas program acara Sweet Munchies, A-Jin hanya ingin menampilkan sosok gay itu sama dengan kebanyakan orang lainnya.

Namun sayangnya, tokoh A-Jin sama sekali tidak menunjukkan ada keinginan politis untuk mendukung hak-hak LGBTQ+. Di titik ini, A-Jin berserta seluruh kru program hanya menjadikan tokoh gay sebagai komoditas atau barang jualannya. Dan ironinya, ini pun dilakukan oleh drama korea Sweet Munchies.

Kenapa Saya Nonton Sweet Munchies?

Poster Drama Korea Sweet Munchies (2020)_kukuhgiaji
Poster Drama Korea Sweet Munchies (2020)

Satu-satunya hal baik di drakor ini adalah Lee Hak-Joo yang memerankan Kang Tae-Wan. Diceritakan Tae-Wan sedang mengalami kebingungan atas pilihan hidupnya, dimana ia adalah seorang pria gay tertutup. Tidak ada siapapun yang tahu kecuali dirinya.

Secara personal, saya menonton karena tokoh Tae-Wan digambarkan sebagai karakter yang kompleks, perasa, dan juga punya pandangan logis dalam melawan anggapan-anggapan mayoritas yang merendahkan LGBTQ+.

Misalnya, A-Jin yang menganggap setiap wanita memiliki mimpi untuk mempunyai sahabat gay (for real, girl???) langsung dibantah keras oleh Tae-Wan.

Tae-Wan adalah segenap pria homoseksual yang harus menghadapi berbagai stereotip merendahkan tentang identitas dan orientasi seksualnya. Tae-Wan adalah segenap pria homoseksual yang harus berjuang mati-matian untuk menemukan cinta sejatinya.

Tokoh Kang Tae Wan dalam Sweet Munchies
Tokoh Kang Tae Wan dalam Sweet Munchies

Di tengah potensi hebat dari karakter Tae-Wan tersebut, penulis drama korea Sweet Munchies malah membuat tokoh ini sebagai pendamping belaka atau sekadar orang kedua yang tidak akan pernah mendapatkan cinta Jin-Sung. Tae-Wan sebagai pria gay tidak hanya direduksi perannya, tetapi juga dimanfaatkan dan dijadikan bumbu semata dalam drakor ini.

Hingga membuat saya sebagai penonton menjadi teramat sedih tatkala melihat perjuangan Tae-Wan agar bisa mendapatkan perhatian Jin-Sung, padahal Jin-Sung menyukai A-Jin dan tidak akan pernah menyukai laki-laki. Tokoh Tae-Wan pun berakhir dimanipulasi dan dijadikan sekedar guyonan saja dalam drakor ini.

Tidak mengejutkan, Sweet Munchies tidak berhasil meraih rating yang baik bahkan 1% saja tidak sanggup digapainya. Ceritanya yang tidak jujur, alur problematik, dan kebodohan-kebodohan lainnya mungkin adalah penyebab banyak orang enggan menonton drakor ini, tak terkecuali komunitas LGBTQ+ sekalipun.

Saat ini, drama korea Sweet Munchies tengah tayang di stasiun televisi JTBC setiap hari Senin dan Selasa. Di Indonesia, drakor ini ditayangkan melalui platform streaming VIU.

Leave A Response
Giaji

Giaji

A 20-something who loves writing and watching mostly k-dramas. Apart from tv and movie reviews, I also talk and discuss about cultural and media issues. If you find my blog useful and helpful don't forget to subscribe. Thanks for reading!

Leave a Reply

%d bloggers like this: