Press "Enter" to skip to content

Review Esai bell hooks, Eating the Other: Desire and Resistance

*

Membaca esai bell hooks membuat saya berpikir ulang mengenai wacana ‘diversity’ atau keberagaman dalam semangat “mengapresiasi kebudayaan kelompok lain” yang bisa jadi malah bentuk lain dari cultural appropriation atau perampasan budaya yang secara halus malah semakin memapankan hegemoni budaya “white supremacist capitalist patriarcy“. hooks berargumen bahwa praktik ini cenderung bersifat terbuka bahkan dirayakan sehingga sulit dideteksi. Eating the Other sesuai dengan namanya adalah konsep dimana kita secara “kanibal” memakan budaya kelompok lain demi menambah cita rasa budaya kita sendiri. Melalui esai ini, saya merasa diajak untuk hati-hati dan lebih sensitif dalam melihat teks-teks media.

*

Hasrat Atas Liyan (Desire of the Other). hooks dalam esainya menganalogikan ras dan etnis sebagai makanan. Ia mempersoalkan bagaimana komoditas budaya telah mengubah ras dan etnis tidak lebih dari sebagai “bumbu” yang dapat menghidupkan kembali hidangan hambar yang tidak lain tidak bukan adalah dominasi budaya ras kulit putih. Kemudian hooks mengeksplorasi bagaimana hasrat atas Yang Lain atau Liyan diungkapkan, dimanipulasi, dan diubah untuk melanggengkan status quo para supramasi kulit putih. Baginya, ini dimaksudkan agar hasrat kepada “primitif” atau fantasi kepada Liyan dapat terus berlanjut dan dieksploitasi.

Pengamatannya terjadi ketika hooks mengunjungi Universitas Yale lalu tak sengaja mencuri dengar obrolan mahasiswa laki-laki kulit putih. Para mahasiswa ini memiliki hasrat untuk berhubungan seksual sebanyak-banyaknya dengan perempuan (atau laki-laki) yang berasal dari ras berbeda, terutama orang kulit hitam, yang masuk dalam urutan pertama atau primary targets mereka dibandingkan Amerika Latin maupun Asia. Para kawula muda ini memandang orang kulit hitam sebagai objek dengan pengalaman hidup lebih banyak sehingga ketika berinteraksi secara seksual mereka seolah-olah merasa telah meruntuhkan tembok ‘white innocent’-nya. Liyan dijadikan oleh mereka sebagai sumber pengalaman baru, unik, dan sensual. Disinilah timbul tren atas hasrat antar-ras (inter-racial sexual desire). Menariknya, bagi hooks para laki-laki kulit putih ini merasa tindakan mereka kepada Liyan adalah tanda mereka bukan bagian dari supramasi kulit putih. Mereka menilai keterbukaan hasrat atas Liyan adalah bentuk afirmasi dari pluralitas budaya di Amerika (dampak preferensi seksual dan pilihan). Tidak seperti supramasi kulit putih yang rasis, mereka memposisikan diri sebagai non-rasis.

“To these young males and their buddies, fucking was a way to confront the Other, as well as a way to make themselves over, to leave behind white “innocence” and enter the world of “experience”.

Disinilah sikap kritis hooks dimunculkan. Pertama, bentuk hasrat seksual antar-ras tidak lebih dari cara mengobyekkan Liyan serupa dengan orientalisme Edward Said. Selain itu, bentuk “afirmitas” semacam ini tidak lebih dari upaya untuk (kembali) mendominasi budaya Yang Lain karena ada hasrat “menguasai” dan “mengontrol” si Liyan. Teks-teks media yang cenderung mudah kita temukan adalah melalui tayangan video porno yang memiliki kategori “interracial”. Bahkan dalam film Get Out (2017) yang disutradarai Jordan Peele juga turut mengkritis upaya “eating the other”.

Tidak hanya dalam aspek kehidupan sehari-hari saja, hooks lebih lanjut membahas seputar cara media memakan budaya Liyan untuk dieksploitasi dan semakin memapankan warisan pemikiran orientalisme.

*

Nostalgia Imperialis dan Perampasan Budaya. hooks meminjam istilah Imperialist Nostalgia dari Renato Rosaldo, yaitu bentuk komodifikasi dan eksploitasi budaya non- kulit putih yang bersifat imperialisme di dalam budaya massa dengan menghidupkan kembali dan reritualisasi imperialisme melalui cara yang berbeda. Rasa nostalgia ini berakar pada keyakinan atavisme bahwa jiwa “primitif” yang ada dalam badan orang kulit hitam memiliki budaya, tradisi, dan gaya hidup yang tidak akan dapat diubah lagi disebabkan oleh imperialisme, kolonisasi, dan dominasi rasisme. Beberapa bentuk imperialis notalgia contohnya adalah dari cara merepresentasikan orang kulit hitam dengan hal yang tampak ‘liar’ di media massa. Orang kuliat hitam cenderung diposisikan sebagai karakter yang keras, maskulin, setia kawan sesama ras, serta ekspresif dalam hal seksualitas. Imajinasi ini tidak lain adalah bentuk dari pandangan orang kulit putih atas orang kulit hitam. Alih-alih merayakan keberagaman atau pengakuan atas budaya orang kulit hitam, malah menjadi bentuk kekerasan budaya dan identitas. Lebih lanjutnya, hooks turut membedakan antara perampasan budaya (cultural appropriation) dan apresiasi budaya (cultural appreciation).

Bagi hooks, “apresiasi budaya” seringkali tidak lebih dari upaya komodifikasi budaya yang cenderung menjadi merampas budaya Liyan. Misalnya dapat kita amati dengan maraknya hair braiding (mengepang rambut) di USA. Gaya rambut tersebut diadopsi oleh banyak selebriti kulit putih Amerika Serikat yang menyatakan bahwa ini bentuk ‘tren’ seakan natural dan wajar bukan sebagai bentuk penghormatan atas perempuan Afrika-Amerika. Pada konteks sejarahnya, hair braids, Lacs, Twist, and Cornrows adalah identitas dari orang kulit hitam Afrika-Amerika, yang di media massa sangat jarang ditampilkan karena didominasi oleh gaya rambut straight dan blonde ala kulit putih. Disini, identitas orang kulit hitam dengan gaya rambutnya kemudian menjadi “bumbu” untuk menambah cita rasa gaya hidup dari orang kulit putih yang membosankan, monoton, dan hambar. Komodifikasi semacam ini selalu melupakan konteks sejarah dari budaya yang tengah diangkat lalu seolah-olah dikonstruksi telah ada perubahan politik secara progresif padahal kenyataannya adalah bentuk lain dari fantasi yang mendominasi.

Dalam konsep ini, hooks memang banyak bercerita soal pentingnya politik representasi yang selalu dilupakan oleh produsen teks media. Baru-baru ini juga seorang fotografer asal Indonesia, Nicoline Patricia Malina mendapat kritik dari netizen perihal foto yang diunggahnya.

Jika diamati tidak ada yang salah pada foto di atas. Namun, jika kita analisis ada hal yang bisa diproblemasitir, yaitu alih-alih menjadikan wanita papua sebagai objek atau pusat cerita malah Nicoline-lah yang menjadi pusat perhatian. Hal ini terlihat dari posisi pemilihan angle objek dalam foto. Dalam foto tersebut yang menjadi objek adalah perempuan berkulit putih membawa kamera dengan pakaian modern, dalam posisi “center” sekaligus “di atas” para wanita papua. Papua diletakkan oleh Nicoline dalam nuansa yang “eksotis”, “liar”, dan “primitif” tidak seperti dirinya yang identik dengan simbol modernitas. Bukankah ini bentuk dari Nostalgia Imperialis?

Tapi kita memang harus hati-hati dalam menganalisis suatu karya. Nicoline berargumen dirinya sama sekali tidak memiliki maksud untuk mengobjekkan wanita papua bahkan foto tersebut adalah upayanya untuk mempromosikan Festival Lembah Baliem. Tetapi sekali lagi yang harus kita perhatikan apa yang sebenarnya sedang dibicarakan dalam foto Nicoline tersebut? Ideologi apa yang dianut fotografer? Representasi apa yang hendak dihadirkan?

*

Mutual Recognition. hooks tidak sekedar mengkritis namun juga menghadirkan solusi mengenai problematika stereotip, rasisme, etc ini, yaitu perlunya kehadiran “mutual recognition” dari kedua pihak, yang dominan dan subordinat. Ia menyorot salah satu karya Lorraine Hansberry, yaitu drama teater berjudul Les Blancs. Drama ini menceritakan hasrat jurnalis Amerika, Charles untuk dekat dengan kelompok orang kulit hitam, dan juga menjalin pertemanan dengan Tshembe, seorang revolusioner kulit hitam. Konflik dalam drama ini terletak dari Tshembe yang sulit menerima Charles yang ingin dekat dengan dirinya karena baginya Charles telah melupakan konteks historis orang kulit hitam.

Charles struggles to divest himself of white supremacist privilege, eschews the role of colonizer, and refuses racist exoticization of blacks. Yet he continues to assume that he alone can decide the nature of his relationship to a black person. Evoking the idea of a universal transcendent subject, he appeals to Tshembe by repudiating the role of oppressor, declaring, “I am a man who feels like talking.” When Tshembe refuses to accept the familiar relationship offered him, refuses to satisfy Charles’ longing for camaraderie and contact, he is accused of hating white men. Calling attention to situations where white people have oppressed other white people, Tshembe challenges Charles, declaring that “race is a device – no more, no less,” that “it explains nothing at all.” Pleased with this disavowal of the importance of race, Charles agrees, stating “race hasn’t a thing to do with it.” Tshembe then deconstructs the category “race” without minimizing or ignoring the impact of racism, telling him: 

I believe in the recognition of devices as devices – but I also believe in the reality of those devices. In one century men choose to hide their conquests under religion, in another under race. So you and I may recognize the fraudulence of the device in both cases, but the fact remains that a man who has a sword run through him because he will not become a Moslem or a Christian – or who is lynched in Mississippi or Zatembe because he is black – is suffering the utter reality of that device of conquest. And it is pointless to pretend that it doesn’t exist – merely because it is a lie . . . 

Melalui drama tersebut, hooks berargumen bahwa alih-alih menganggap rasisme tidak ada malah harus ada kesepakatan dan pengetahuan yang setara antara pihak “Self” (yang mendominasi; menghegemoni) dan “Other” (yang tersubversi; Liyan) mengenai rasisme. Charles dipandang hooks tidak lebih dari upaya kulit putih merealisasikan fantasinya untuk dekat dengan Liyan. Sesuatu yang dimulai dengan “hasrat menguasai” lah yang kemudian menjadi titik masalah padahal semestinya dalam suatu hubungan tidak ada “hasrat atau fantasi menguasai” di dalamnya.

Meskipun begitu, hooks dalam penutup esainya mengakui bahwasanya hasrat untuk berhubungan atau menjalin relasi dengan orang yang berbeda dari kita tidak sepenuhnya buruk, politically incorrect, atau wrong-minded. Namun, kita mesti mengenali dahulu dari mana hasrat itu berasal? Kepentingan apa yang ada di dalam hasrat itu? Dengan begitu kita bisa mengetahui bagaimana hasrat dapat menganggu orang lain. Atau bahkan bisa jadi itu adalah bentuk resistensi.

Sumber:

bell, hooks. (1992). “Eating the Other: Desire and Resistance” dalam Durham, Meenakshi Gigi; dan Kellner; Douglas M, Media and Cultural Studies: KeyWorks (Revised Edition). Blackwell Publishing. Pg 366-380.

Watch on Youtube: Cultural Appropriation vs Cultural Appreciation in “Eating the Other” Perspective

bell hooks, Eating the Other: Desire and Resistance Presentation
Leave A Response

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *