Press "Enter" to skip to content

Review Esai Merlyna Lim, Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia

Bagaimana media sosial beroperasi di Indonesia? Apakah berbagai macam aktivisme daring terjadi begitu saja? Dikarenakan masyarakat memang sudah geram atas ketidakadilan? Atau mungkinkan hanya sekedar “ikut-ikutan” saja? Kira-kira inilah yang berusaha dicari oleh Merlyna Lim melalui esainya yang bertajuk aktivisme media sosial di Indonesia. Dengan mengikuti dua kasus besar: Pritadan Cicakvs Buaya, ia memasuki lanskap media sosial di Indonesia yang kompleks, rumit serta juga berinterseksi dengan kuasa politik dan media arus utama.

Pertanyaan besar dalam esai ini adalah seputar bagaimana aktivisme media sosial di Indonesia dapat sukses? Lim menjabarkan setidaknya perlu tiga kunci penting ketika menyampaikan meta-narasi, yaitu Light Package (konten yang dapat dinikmati tanpa membutuhkan waktu lama, dan dapat dipahami tanpa refleksi mendalam), Headline Appetite (suatu kondisi dimana informasi hanya membutuhkan perhatian kecil dan percakapan satu-linier), dan Trailer Vision (cerita yang sensasional, hype, sederhana atau lebih tepatnya menyederhanakan narasi agar bisa viral, tapi bersamaan juga tidak terasosiasikan dengan aktivisme besar atau tidak melawan ideologi, seperti nasionalisme dan keagamaan). Intinya adalah: suatu aktivisme dapat sukses jika tidak berupaya untuk melawan ideologi dominan. Ini adalah kunci kemenangan dari kasus Prita dan Cicak vs Buaya.

Misalnya bisa kita amati dari Prita Mulyasari yang disimbolkan sebagai seorang perempuan dan ibu rumah tangga, ia tidak memiliki afiliasi/kepentingan dengan institusi manapun. Prita dapat dengan mudah menjangkau audiens yang luas, terutama perempuan, seorang ibu rumah tangga, dan berasal dari kalangan kelas menengah. Prita dihadirkan sebagai korban yang mengalami kriminalisasi oleh institusi raksaksa. Jika itu bisa terjadi kepada Prita (as an ordinary people) maka di lain waktu peristiwa semacam ini bisa terjadi kepada siapa saja. Di sisi lain, Lim turut menelaah perkembangan kasus Cicak vs Buayayang terbagi atas dua: daring dan offsite. Secara daring sebagaimana kita ketahui berkembang kampanya Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Candra Hamzah & Bibit Samad Riyanto. Lim berargumen dukungan semacam ini membuat setiap orang dapat terlibat tanpa mengeluarkan waktu dan tenaga yang besar. Gerakan yang diusung melalui Facebook ini meraih target hanya dalam waktu satu bulan saja, namun ketika aksi demonstrasi dilakukan hanya lima ribu orang saja yang turut berpartisipasi.

Bagaimana ini bisa terjadi? Lim kemudian berkaca dari kasus Koin Prita yang berhasil mengumpulkan hingga US$90,000. Baik Prita dan Cicak vs Buaya menggunakan gaya narasi seputar Good vs Evil, selain itu dikemas secara singkat, dan paling penting adanya keterlibatan media arus utama dalam melakukan framing kedua kasus ini. Berbeda sekali misalnya dengan kasus Lapindo dimana saat itu Aburizal Bakrie selaku pemilik perusahaan dan pihak yang dituntut publik merupakan pemilik media televisi TVOne, juga sekaligus ketua Partai Golkar dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Indonesia. Good vs Evil tidak lagi berlaku di situasi ini, karena media terbagi atas dua kubu, sehingga menimbulkan informasi yang bisa: Mana yang benar? Mana yang muslihat? Serupa pula dengan kasus Ahmadiyah. Tantangan terbesar atas kasus itu adalah adanya interseksi antara ideologi dominan dan minoritas (yang dipandang sebagai kelompok sesaat). Tidak ada media yang berani mengambil framing berbeda karena ideologi “ajaran Islam yang benar” begitu kuat. Sementara kasus Lapindo menyentuh rakyat miskin yang kerap hanya dijadikan bumbu dalam acara reality show sulit dekat dengan kalangan menengah, yang merupakan mayoritas pengguna media sosial.

Sederhananya, kompleksitas kasus menjadi kunci bagi kesuksesan aktivisme media sosial di Indonesia. Semakin “sederhana” suatu kasus, dekat dengan kelas menengah, mempunyai sisi “entertain”, dan tidak memilik risiko besar maka peluang kesuksesan akan semakin besar pula.

Identifikasi lain dari aktivisme ini adalah perputaran aktivisme yang sangat cepat, tipis, dan beragam, sehingga dibutuhkan kecermatan dalam menjangkau publik. Mengutip Jenkins mengenai fans yang identifikasikan sebagai “nomaden” dan ”tidak tetap”, cenderung loncat-loncat, begitupula karakter pengguna media sosial yang tidak dapat diprediksi. Maka dari itu wajar kritik Lim bahwa Many Clicks but Little Sticks adalah posisi dimana meskipun aktivisme/kampanye mendapat banyak dukungan dan partisipasi daring, namun kontribusi tersebut tidaklah bersifat loyal.

Ini membuka refleksi soal bagaimana gerakan-gerakan, seperti Aksi Kamisan hingga saat ini menemui jalan buntu. Beritanya hanya dijadikan sekedar bumbu, sekelibat, dan tidak mendapatkan perhatian serta dorongan besar dari media arus utama. Sama sekali tidak ada urgensinya. Mengapa? Merujuk pemahaman di atas, Aksi Kamisan yang berupaya meminta keadilan itu sedang melawan “kebenaran dominan” atas kasus-kasus di masa “Orde Baru” dan sangat berseberangan dengan paham dominan terkait Nasionalisme, NKRI, dan instansi pemerintah.

Lantas, bagaimana menjadikan pengguna media sosial bisa lebih fasih dan paham atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan dengan media baru ini dalam melawan ideologi dominan? 

Jawabannya sederhana: literasi media.

Sumber: Merlyna Lim (2013) Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia, Journal of Contemporary Asia, 43:4, 636-657.

Leave A Response

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *