Review Film Bebas (2019)

Film Bebas

Film Bebas (2019) mengangkat kisah persahabatan sekelompok anak SMA yang terdiri atas lima anak perempuan dan satu anak laki-laki. Berkat tangan dingin Riri Riza dan Mira Lesmana, film yang merupakan adaptasi dari film korea berjudul Sunny (2011) ini tidak hanya mampu membangkitkan rasa nostalgia bagi mereka yang hidup di masa 90’an, namun juga menggambarkan sedikit masa-masa gejolak awal kebangkitan mahasiswa dan pembredelan media massa di Indonesia.

Alkisah, Vina Panduwinata (diperankan Maizura) adalah anak pindahan dari kota Sumedang. Vina yang baru saja pindah ke Jakarta ini mengalami gegar budaya. Perkaranya, gaya bahasa gaul ABG Jakarta begitu asing di telinganya, belum lagi perbedaan pandangan mengenai pilihan style, dan ditambah logatnya yang kental sunda itu ia sampai diberi julukan ‘tahu sumedang’. Tak ayal, Vina harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya ini.

Adalah Krisdayanti (diperankan Sherly Sheinafia) yang mengajak berteman Vina pertama kali dan memperkenalkannya kepada anggota gengnya: Jessica (diperankan Agatha Pricilla), Suci (diperankan Lutesha), Gina (diperankan Zulfa Maharani), dan Jojo (diperankan Baskara Mahendra).

Di titik inilah, persahabatan mereka dimulai, yang tentu saja dipenuhi intrik khas remaja.

Tapi yang perlu diperhatikan adalah film Bebas bukan sekedar mengisahkan masa remaja anak 90’an tetapi jauh dari pada itu, ini juga cerita mengenai proses menemukan jati diri kembali yang tergerus oleh kedewasaan.

Geng Bebas Adalah Kita

Film Bebas Adaptasi Sunny
Geng Bebas

Film Bebas memulai adegan dengan tokoh Vina dewasa (diperankan Marsha Timothy) yang beranjak dari tempat tidurnya. Raut mukanya tidak bahagia. Dari adegan pembuka saja kita bisa merasakan kepenatan hidup Vina yang dipenuhi repetisi: bangun tidur, menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian untuk pasangannya, dan menghantarkan sang anak pergi sekolah.

BACA JUGA  Resensi Film Indonesia, HEADSHOT (2016)

Mungkin inilah rasanya menjadi perempuan dewasa. Identitasnya terkadang tidak lebih dari sekedar seorang istri dan ibu rumah tangga. Itu pun diakui Vina ketika menyampaikan keluh kesahnya kepada Kris dewasa (diperankan Susan Bachtiar) yang kini tergolek lemah di kamar pasien.

Bedanya, setelah melakukan pencarian panjang untuk menemukan anggota geng Bebas demi mewujudkan harapan terakhir Kris itu, Vina menyadari dirinya lebih dari dua identitas itu. Ia berhak bahagia dan berhak melakukan apapun yang diinginkan.

Lewat tokoh Vina kita belajar terkadang menjadi dewasa itu seringkali melupakan impian kita. Perasaan itu tentu akan relatable bagi banyak penonton bahkan kalangan milenial sekalipun yang juga sedang memasuki masa-masa kepenatan sama dengan Vina.

Kapan terakhir kali kita mengingat mimpi dan impian kita yang sebenarnya?

Tokoh Vina memperingatkan kita agar tidak pernah melupakan jati diri kita sebenarnya.

Lewat tokoh lain pula kita juga turut disadarkan bahwa tidak pernah ada satu orang pun di dunia ini bisa benar-benar bahagia tanpa ada masa-masa struggle-nya.

Ekspresi Gender dan Masalah Keperempuanan

Baskara Mahendra dalam Film Bebas (2019)

Di tangan Gina S. Noer sebagai penulis naskah, film Bebas bermetamorfosis menjadi film yang menawarkan pandangan baru mengenai realitas sosial sehari-hari.

Pertama adalah tokoh Jojo, seorang pria kemayu atau feminin yang mesti bersikap gagah dan jantan ketika dewasa (diperankan Baim Wong). Ia dipaksa mengikuti norma-norma yang hegemonik: pria sempurna adalah pria yang berumah tangga, memiliki istri, dan anak.

Ketegangan antara identitas Jojo sebagai pebisnis, laki-laki, dan kefeminannya dengan impiannya disampaikan secara tedas dalam film ini.

Di film Bebas, identitas Jojo yang kompleks itu tidak lagi menjadi bahan candaan atau bahkan memperparahnya dengan mengecap hal itu salah.

BACA JUGA  Resensi Film Indonesia, Tiga Dara (1987) - Restorasi

Jojo adalah karakter yang terlihat. Serupa dengan Vina, Jojo juga merefleksikan kembali pilihan hidupnya yang memaksanya untuk tidak mengekspresikan gendernya. Bebas telah menawarkan cara pandang lain mengenai kelompok rentan.

Tidak hanya itu, tokoh Kris pun dibentuk Gina sebagai sosok yang tidak hanya tangguh tapi jelas adalah seorang feminis. Ia jago bela diri dan juga memahami dunia yang sangat patriarki. Padahal ia hanyalah seorang anak SMA yang seringkali direpresentasikan oleh media jauh dari kapabilitas memahami politik dan ideologi.

Gina memberikan sebuah ruang baru bagi remaja perempuan yang selama ini cenderung diposisikan dalam film sebagai karakter yang ‘manis’, ‘naif’, dan ‘lugu’. Toh, memang tidak semua remaja perempuan berkutat pada persoalan cinta monyet belaka.

Di balik momen-momen nostalgia tentang masa 90’an, pada akhirnya film Bebas benar-benar bisa membebaskan kita dari kekungan realita sosial yang selama ini mengekang . Akhir kata, film ini tidak hanya menghibur namun juga sekaligus mengajarkan kita mengenai makna ‘menemukan cinta sejati’.

Leave A Response

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: