Review Film Korea Parasite (2019)

Tampak bagi Bong Joon-Ho, film adalah medium yang digunakan untuk mengkritisi realitas sosial dan kali ini kembali disampaikan melalui karya terbarunya yaitu film korea Parasite (2019).

Mengisahkan Ki-Woo (diperankan Choi Woo-Sik) yang mendapatkan tawaran kerja dari Park Mi-Hyuk (diperankan Seo-Joon) untuk mengajar murid yang sedang ditaksirnya. Tawaran itu segera saja ia terima. Sebagaimana judulnya yaitu Parasite, film korea ini lalu bergerak cepat memperlihatkan usaha Ki-Woo memanipulasi keluarga Mr. Park dengan menyingkirkan para asisten rumah tangga mereka.

Mengejek Kapitalis

Seperti obat mujarab, kata “referensi” lah yang dijadikan taktik Ki-Woo untuk mengangkut seluruh anggota keluarganya menjadi pekerja keluarga Mr Park. Ironi memang di dunia yang katanya sudah modern dan canggih ini “referensi” malah tetap menjadi sumber daya utama untuk mempertimbangkan nilai seseorang. Rekam jejak tidak lagi menjadi persoalan melainkan kepercayaan dan kedekatan adalah nilai utama. Dalam dunia pekerja, Ini akar dari ketidakadilan perihal hak kesempatan bekerja.

Permasalahan “referensi” ini tidak lagi baru dan telah banyak film dan drama korea yang mengangkat isu serupa. Menariknya, Bong Joon-Ho menghadirkan isu ini ke dalam ranah privat yaitu keluarga, yang dipandang memiliki sistem selayaknya suatu perusahaan korporat kapitalis.

Di titik ini, film korea Parasite (2019) adalah komedi satir yang memperolok ide-ide tentang pemosisian orang miskin sebagai pihak tidak berdaya. Nyatanya, keluarga Ki-Taek bisa menggunakan taktik yang sama dengan orang-orang berkerah putih untuk bertahan hidup.

Jelaslah bahwa intelektualitas bukan sumber dari kenestapaan melainkan kesempatan atau lebih tepatnya adalah hak istimewa (privilege) penyebabnya. “Referensi” di dalam film Parasite secara simbolis merepresentasikan privilege semacam itu, yang hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Dan kali ini privilege itu dibuat dan dimiliki oleh keluarga Ki-Taek.

BACA JUGA  Review Film Korea The Wailing (2016)

Bau dan Segregasi Sosial

Segregasi sosial dihadirkan begitu tajam antara Si Kaya dan Si Miskin terutama lewat bau. Bau adalah penanda kelas sosial dalam film korea Parasite (2019) –– ia menentukan bagaimana seseorang diposisikan, dibicarakan, dan tentu saja direpresentasikan.

Raksa Santana memaparkan ulasan yang baik tentang ini. Detail-detail penting yang dilihatnya adalah segregasi sosial dihadirkan dalam film secara vertikal. Kita akan melihat kondisi keluarga Ki-Taek yang serba memprihatikan. Rumah mereka terletak di bagian terbawah yang bahkan air kencing saja lebih tinggi derajatnya. Memang tidak sulit untuk mencerna Parasite sebagai film yang hendak merepresentasikan kesenjangan Si Kaya dan Si Miskin.

Keluarga Ki-Taek berusaha habis-habisan menutupi kemiskinan mereka. Mengenakan busana yang tampak modis dan mahal, juga berperangai bak orang berpendidikan kelas tinggi. Kepura-puraan itu semua semata-mata untuk menunjukkan bahwa mereka setara dengan Keluarga Mr Park. Sampai ketika bau tubuh Ki Taek (diperankan Song Kang-Ho) dipermasalahkan Mr Park (diperankan Lee Sun-Kyun). Bau lalu menjadi tolak ukur nilai seseorang.

Mungkin memang benar adanya bahwa tubuh mampu mengungkapkan semua hal tentang manusia. Tubuh tidak pernah bisa berbohong maka lewat bau pula Mr. Park menyadari para karyawan barunya itu memiliki bau tubuh yang sama ––– yang tidak mengenakkan dan menyengat baginya.

Bisa jadi Bong Joon-Ho dalam film korea Parasite (2019) hendak menjadikan bau sebagai metafora untuk menjelaskan bahwasanya industrialisasi dan kapitalisme tidak hanya menyebabkan ketimpangan sosial belaka namun pada wilayah yang lebih privat yaitu tubuh juga bisa turut didisiplinkan. Sama dengan yang diungkapkan Santana, saya setuju bahwa film korea Parasite (2019) adalah karya yang bisa membantu kita melihat ketimpangan sosial.

BACA JUGA  Review Film Korea The Odd Family: Zombie on Sale (2019)

Namun ironinya Parasite yang membicarakan ketimpangan sosial itu juga mesti berakhir sebagai karya milik elitis, terbukti ditayangkan pertama kali secara terbatas (tidak dibuka untuk umum) di Festival Cannes, yang merupakan salah satu dari “Big Three” festival film di dunia. Bong Joon-Hoo yang ingin menertawakan kekuasaan, elit, dan tentu saja kapitalisme di film korea terbarunya itu ternyata juga mesti berakhir di dalam kotak yang sama dengan mereka. Padahal Parasite tengah mengkritik salah satunya adalah privilage.

Film Korea Parasite (2019) Memenangkan Palme d’0r
Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close