Review Novel Orang Orang Oetimu Karya Felix K. Nesi

Review Novel Orang Orang Oetimu Karya Felix K. Nesi

Novel Orang Orang Oetimu menjadi teman perjalanan saya dari Yogyakarta ke Jakarta silam lalu. Dan tak disangka-sangka, novel karya Felix K Nesi ini membuat saya kecanduan: tidak bisa berhenti membacanya, dan bahkan sampai enggan untuk makan di gerbong restorasi yang lazim saya lakukan.

Hal ini lantaran Felix selaku pengarang pandai betul merajut kisah di antara para tokoh dalam novel ini. Tak hanya itu, novel ini juga melintasi zaman, dari masa penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, hingga ketika prajurit militer Indonesia mulai menduduki wilayah Timor Timur serta Oetimu, sebuah wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur.

Menariknya, semua itu dapat disajikan oleh Felix secara detail dan padat berbekal dengan 220 halaman saja padahal terlampau banyak tokoh penting di novel Orang Orang Oetimu ini.

Ada Sersan Ipi, seorang aparat yang gemar adu hantam; Am Siki, pahlawan tersohor yang dikenal pernah membunuh lebih dari sepuluh orang tentara kerja dan membakar habis satu kamp kerja paksa; Silvy Hakuak Namepan, gadis SMA nan cerdas dan rupawan yang ditinggal oleh kedua orang tuanya; Linus Atoin Aloket, pemuda dan pemerkosa yang ingin mati demi membela bangsa dan negara Indonesia; Romo Yosef, pastor muda yang menjadi penanggung jawab SMA Santa Helena; Maria Goreti Naleok, aktivis perempuan; Martin Kabiti, mantan perwira yang bertanggung jawab atas operasi pembantaian Krakas; dan Atino, lelaki yang ingin membalas dendam terhadap tentara Indonesia atas tragedi pembantain di Timor Timur.

Tokoh-tokoh dalam novel Orang Orang Oetimu tersebut merepresentasikan kegetiran dan kritik Felix terhadap penyalahgunaan kekuasaan oleh berbagai institusi, seperti negara dan agama.

Misalnya, Felix sering kali mengkritik bagaimana bahasa dan kekerasan digunakan oleh tentara untuk tidak hanya sekadar menguasai wilayah-wilayah terpencil, tetapi juga mempropagandakan paham dan nilai-nilai “untuk menjadi beradab” yang bertolak-belakang dengan paham lokalitas.

Sementara itu, geraja juga tak ubahnya sebagai industri komersil dan rumah bordil. Digambarkan oleh Felix, mayoritas para Romo dan Frater ternyata gemar memperkosa para remaja wanita. Bahkan semulia apapun Romo Yosef, nyatanya ia malah mengesampingkan kepentingan para murid miskin yang paling membutuhkan akses pendidikan dengan menjadikan SMA Santa Mulia sebagai sekolah bertaraf Internasional dan dampaknya biaya sekolah menjadi terlampau mahal.

Novel Orang Orang Oetimu bagi saya hendak menyampaikan bahwa negara maupun agama sama-sama absen terhadap kepentingan kelompok minoritas, melainkan sumber daya yang dianggap paling menguntungkan lah yang akan disembah, dipuja, dan tentu saja dikasihi. Dan cara-cara yang dilakukan untuk menggapai itu semua acap kali berurusan dengan kebebasan dan demokrasi masyarakat.

Akhir kata, novel Orang Orang Oetimu telah membuat saya untuk menolak lupa terhadap peristiwa-peristiwa genosida yang dilakukan oleh tentara Indonesia, yang dalam konteks karya Felix ini adalah peristiwa pembantaian Krakas dan Santa Cruz.

Leave A Response
Giaji

Giaji

A 20-something who loves writing and watching mostly k-dramas. Apart from tv and movie reviews, I also talk and discuss about cultural and media issues. If you find my blog useful and helpful don't forget to subscribe. Thanks for reading!

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: