Press "Enter" to skip to content

Tag: film pendek

Film Pendek Buang (2013) – Review

Andri Cung dan William Chandra, sebagai sutradara film pendek Buang (2013) sah-sah saja membuat alur maju-mundur agar penonton dibuat penasaran apa yang tengah dinanti Mbak Mar bersama Rasyid dan Suster Marissa di pesisir laut dengan latar waktu bulan puasa, tepatnya 5 September 2011. Walau jelas, ketika adegan bergulir nyaris satu tahun silam, penonton mulai menerka-nerka:

Apakah Siti yang mereka tunggu kehadirannya?

Buang (atau dalam bahasa inggris The Disposal) merupakan elegi menyoal rentannya modus operandi dalam bentuk perdagangan manusia. Pada tahun 2012-2015 saja tercatat ada 861 kasus perdagangan orang dengan 70% korbannya merupakan perempuan dan anak. Dengan tokoh utama anak perempuan berumur 14 tahun bernama Siti, film pendek ini menyajikan secara eksplisit bagaimana lingkaran setan ini tak akan pernah berhenti.

Alkisah, Siti diiming-imingi teman almarhum bapaknya untuk mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri. Namun, harapan dan cita-citanya pupus ketika Ia menjadi korban perdagangan manusia dan tindakan kekerasan seksual dibawah umur. Di usia yang begitu belia, Ia dihadapi kenyataan pahit untuk menghadapi pria pedofil bahkan akhirnya dibuang ke Jakarta ketika dianggap tak layak pakai lagi.

Sementara, Sulton yang diperankan Surya Saputra kerap kali mengulang-ulang betapa dekat dirinya dengan almarhum ayah Siti bahkan kerelaaannya meminjamkan sejumlah uang kepada Uti (Ibu Siti). Tetapi Sulton tidak hanya bermain-main dengan kemanisan saja nyatanya dia memberikan gertakan kepada Uti, banyak utang yang ditanggung belum termasuk bunga yang harus dibayarkannya. Uti meragu sementara Siti terlena dengan janji-jani manis Sulton. Kemiskinan dan keterbatasan pilihan selalu menjadi faktor utama alasan seseorang percaya untuk memilih jalan hidup sebagai pekerja di luar negeri.

Buang tidak main-main dalam merepresentasikan isu perdagangan manusia serta tidak menyederhanakan logika bagaimana lingkaran setan ini tetap terus berlanjut hingga sekarang. Sutradara berani menyajikan adegan pemerkosaan yang dilakukan pria dewasa kepada Siti secara frontal. Dampaknya: Penonton dibuat gelisah dan geram, mengapa bisa membiarkan hal ini terus terjadi? Atau bisa jadi baru menyadari telah sedemikian parah kasus perdagangan manusia begitu pula efeknya kepada korban.

Memang akan sungguh rumit untuk mengupas kronologis bagaimana perdagangan manusia dapat terjadi apalagi dalam medium film pendek, alih-alih merumitkan atau sekedar memberikan pesan moral belaka, Buang justru terasa sebaliknya. Hal yang jelas adalah gagasan kasus ini dapat dimulai dan diakhiri oleh orang yang sama – dalam artian mereka yang kita anggap terpercaya bisa jadi tersangka utama.

Mbak Mar, Rasyid, dan Suster Marissa pada akhirnya menjadi tokoh yang tidak memahami bagaimana mengakhiri tragedi yang tak berkesudahan ini diakibatkan keterbatasan yang mereka miliki, dapat dilihat ketiga tokoh ini sebagai perwakilan dari Lembaga Sosial Masyarakat, Mahasiswa dan Instansi Agama. Bisa jadi Buang sebenarnya sentilan untuk abstainnya negara dalam memerangi masalah ini.

Resensi Film Pendek “Bubar, Jalan!” : Potret Anak-anak dalam Prosesi Upacara Bendera

Berbicara mengenai peran anak-anak dalam film pendek di Indonesia, rasanya masih begitu jarang digali karena kebanyakan mereka hanya direpresentasikan sebagai tokoh pendamping yang polos atau lagi-lagi hanya bermain dengan sekedar isu moral, seperti The Flowers and the Bee oleh Monica Vanesa Tedja yang mengangkat tema seksualitas dalam kacamata anak-anak. Berbanding dengan itu tidak ada salahnya padahal menjadikan tokoh anak-anak sebagai pribadi yang jenaka tanpa selalu melulu menyandingkannya dengan berbagai fenomena sosial. Senoaji Julius, misalnya. Melalui Gazebo dan 2b, ia bercerita mengenai potret anak dalam masa sekolah yang penuh imajinasi dan komedi. Resepnya sederhana: make-it-believe kepada para penonton. Ia juga tidak lupa untuk melakukan pendalaman karakter yang harus diakui sangat luar biasa.

Hal itu pula yang setidaknya berusaha dilakukan oleh Gerry Fairus Irsan. Dalam Bubar, Jalan! ia memperkenalkan komedi visual nyaris tanpa dialog, bermain melalui teknik penyuntingan gambar serta bertaruh dengan resep make-it-believe di film pendek terbarunya itu. Uniknya, pembuat film ini meletakkan lahan sempit untuk bercerita, yaitu prosesi upacara bendera oleh murid sekolah dasar dengan berbagai macam realitas yang ditangkap oleh kamera senyata-nyatanya.

Bubar, Jalan! bercerita tentang Ahong – seorang anak laki-laki yang bertugas untuk memimpin upacara bendera. Ia merasa tertekan dengan tanggung jawab yang dipikulnya itu. Entah dari sering buang air, kaki gemetaran, dan banjir keringat selama upacara berlangsung. Sepanjang perjalanan, disuguhkan bagaimana ia harus melawan rasa paniknya, ditonton oleh ratusan murid dan guru yang tampak menjadi ketakutan tersendiri baginya.

Realita prosesi upacara bendera

Menariknya pembuat film tidak sekedar ingin mempertunjukkan bagaimana satu anak manusia harus mengendalikan rasa takutnya masih ada potret anak-anak hadir untuk sekedar memperlihatkan bagaimana kisah masa sekolah dasar mereka. Contohnya, adegan dimana dua murid bersembunyi di dalam toilet untuk melarikan diri dari prosesi upacara bendara. Hal-hal lumrah yang sering dilakukan oleh kita yang malas untuk berpanas-panasan di lapangan. Atau, bendera yang tengah dikibarkan oleh pasukan pengibar dalam posisi terbalik .

Menarik juga sebenarnya apa yang berusaha ditawarkan dalam film pendek berdurasi kurang lebih sepuluh menit ini. Sayangnya, Gerry Fairus Irsan masih kurang melakukan pengamatan dalam usaha mempertontonkan tingkah jenaka anak-anak kala berada di kegiatan pengibaran bendera itu. Eksekusinya serba nanggung baik dari segi cerita maupun komedinya. Masih banyak hal yang dapat dieksplorasi sesungguhnya pada lahan sempit itu justru itulah tantangannya. Sepuluh menit sepertinya durasi yang sangat singkat dengan cerita sepotensial bubar, Jalan!.

Kita bisa melihatnya melalui karya Senoaji Julius, Gazebo yang menggunakan lahan sempit untuk bercerita juga, yaitu perpustakaan sekolah. Atau, Lembar Jawaban Kita milik Sofyana Ali Bindiar dengan kritikannya terhadap pelaksanaan ujian nasional di Indonesia. mereka berdua berani untuk keluar jalur dari realitas yang ‘nyata’ dengan maksud bermain-main dalam penuturan di filmnya, seperti Gazebo misalnya, mempertunjukkan bagaimana para anak-anak SD berlayar di atas meja ataupun berperangan ala Amerika dengan suku Indian. Atau juga, teknik-teknik menyontek yang dilakukan oleh murid sekolah dalam Lembar Jawaban Kita yang dirasa mustahil dan tidak mungkin dilakukan. Namun, kedua pembuat film itu mampu membuat penonton percaya akan imaji yang mereka tawarkan. Dan itulah yang belum dapat ditemukan pada Bubar, Jalan!.

Pendalaman karakter pun masih belum potensial. Sebaris pertanyaan terbesar ‘kenapa pemimpin upacara bendera itu bernama Ahong?, memiliki ras tionghoa?, dengan kata lain bukan pribumi?’. Apa yang sesungguhnya berusaha diberikan oleh Gerry selaku sutradara pada filmnya. Walaupun penokohan Ahong sebagai ras tionghoa bukanlah isu sentral dalam Bubar, jalan! namun masalah terbesarnya ketika pertanyaan ‘kenapa’ itu tidak dapat terjawab melalui filmnya. Atau sebenarnya semua hanya kebetulan belaka saja atau bisa jadi merupakan curhatan personal dari si pembuat film.

Meski begitu bukan berarti Bubar, Jalan! gagal dalam segala eksekusinya. Secara keseluruhan, film pendek ini bisa menaruh hati bagi para penonton yang telah dewasa untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa pengibaran bendera mereka apalagi bagi mereka yang mengalami nasib serupa dengan Ahong.

Gerry Fairus Irsan telah berani mengambil risiko untuk membuat film yang jarang dilirik oleh pembuat film lainnya,  Berani menempatkan tema unik untuk diceritakan adalah salah satu bekal yang berarti bagi rekam kesejarahan film pendek di Indonesia. Bubar, Jalan! akhirnya tampak sebagai sebuah film eksperimental: bermain-main dari segi cerita, teknis dan penuturannya.


Bubar, Jalan! | 2015 | Durasi: 10 menit | Sutradara: Gerry Fairus Irsan | Produksi: Rumahku Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Ivan Fauzan, Nastiar F, Mohammad Aditya.