Press "Enter" to skip to content

Tag: kgiaji

Film Deadpool (2016) – Review

Dalam dunia fiksi, konsep ‘The Hero‘ lebih dikenal dengan karakter protagonis yang mengemban kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia dan biasanya berada dalam dua kegiatan antara keberanian dan pengorbanan. Tetapi di era postmodern ini konsep semacam itu sudah tidak berlaku bahkan cenderung menawarkan kebaruan dengan menampilkan sosok hero (pahlawan) yang memiliki cara pandang akan dunia sangat berbeda, sebut saja Maleficient atau Watchmen. Konsep hitam putih kini hampir tidak berlaku karena semua orang dapat mendefinisikan pahlawan dengan berbeda-beda maka dari itu dikenal bermacam karakter dengan julukan Anti hero – Pahlawan yang melakukan aktivitasnya dengan brutal, tanpa ampun dan kebanyakan merugikan banyak orang. Salah satunya adalah Deadpool yang merupakan alter ego dari Wade Wilson.

Cerita bermula dengan Wilson di diagnosa kanker stadium akhir yang lalu memutuskan menerima tawaran pengobatan untuk menjadikannya mutant. Ternyata hal itu berujung membawanya kepada penderitaan, dengan teknik pengobatan berbahaya agar merangsang adrenalinnya untuk membangunkan gen mutant di tubuhnya. Perseteruan antara dia dengan Ajax, ilmuan yang menangani dirinya membawa petaka. Laboratorium tempatnya dirawat terbakar dan naas dia ikut di dalamnya. Tentu saja kisah tidak berakhir sampai disini, kekuatan yang dimilikinya adalah menyembuhkan diri layaknya Wolverine maka dia kembali bangkit dari kematian dan berusaha membalas dendam kepada Ajax karena telah membuat wajahnya menjadi buruk rupa.

Pahlawan Banyak Gaya!

Deadpool / Wade Wilson adalah karakter superhero yang memiliki gangguan kejiwaan terutama dalam masalah personality disorder. Baik di film maupun komiknya karakter pahlawan satu ini sering berbicara sendiri seakan-akan menampatkan dirinya dalam panel komik dan sebagai tokoh utama di dalamnya. Motif balas dendamnya pun hanya karena wajahnya buruk rupa dan malu apabila kembali bertemu dengan tunangannya. Takut ditolak karena ia telah menjadi jelek!. Bahkan di awal film kita disuguhkan bagaimana sikap dari Wilson sendiri, yaitu memiliki rasa percaya diri berlebihan, sibuk dengan fantasi sendiri, dan berperilaku arogan juga sombong.

Maka jelas  memang Wilson memiliki Narcisstic Personality Disorder (NPD), gangguan psikologi ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan dirinya dan juga rasa ingin dikagumi. Salah satu ciri paling kentara pada penderita gangguan ini adalah terlalu mendramasitir sesuatu, sering berpura-pura dan anti-sosial.

Sepanjang film berjalan Wilson hanya berada di lingkaran orang-orang terdekatnya, yaitu Weasel (pemilik bar dan terlihat sebagai teman dekatnya), Vanessa (tunangannya), Dopinder (supir taksi), dan Al si Buta (pemilik rumah tempatnya tinggal). Dia cenderung menjauhi komunitas semacam X-Men yang mengajaknya bergabung, yaitu Colossus dan Negasonic Teenage Warhead.

Selain itu, Deadpool adalah karakter pahlawan pertama yang difilmkan dengan orientasi Panseksual. Pemilik orientasi ini memiliki ketertarikan kepada orang lain tanpa memandang identitas gender atau jenis kelamin, berarti bisa saja tertarik pada laki-laki, perempuan, transgender, atau interseks. Akan tetapi, bukan berarti mereka menyukai semua orang. Beberapa panseksual memiliki preferensi fisik. Di tahun 2013, Gerry Dugan, pengarangnya mengkonfirmasikan melalui akun twitternya bahwa karakter anti-hero ini memiliki orientasi pansexual.

He said, “I’ve been dogged with the DP sexuality questions for years. It is a bit tiring. He is NO sex and ALL sexes. He is yours and everyone else’s. So not dismissive, but rather the epitome of inclusive”. [¹]

Walaupun di film pertamanya ini belum ada keterbukaan mengenai orientasi tersebut seperti dengan komiknya tetapi semoga saja keterbukaan itu bisa diberikan melalui sekuelnya yang telah diberi lampu hijau rumah produksinya, Twentieth Century Fox Production. Menarik bila membayangkan Deadpool berkencan dengan seorang pria. Dalam komiknya sendiri, dia seringkali menggoda spiderman dan beberapa karakter superhero lainnya. Sementara filmnya masih condong menghadirkan jokes seksualitas, seperti mencium pria dan tembakan tepat di duburnya.

Sang Sutradara sendiri Tim Miller telah mengkonfirmasikan melalui wawancara [²] bahwa Deadpool versi film akan pansexual dan ‘hyper seksual’. Karater ini sendiri juga memiliki julukan ‘Merc with a mouth‘.

Film yang Nyeleneh!

Secara keseluruhan film Deadpool sangat nyeleneh apabila dilihat dari sisi konten. Rating R (Restricted) / dewasa 17+ pantas untuknya karena memiliki lawakan dewasa dengan adegan brutal bersimbah darah. Hal yang patut dipuji adalah bagaimana komedi cerdas tersampaikan dengan mengkritik universe X-Men yang semakin sulit diikuti atau Liam Neeson adalah ayah yang buruk pada Trilogi Taken. Untuk orang-orang yang memiki referensi film sedikit mungkin tidak mungkin sulit menemukan letak komedi dalam film ini selain adegan baku tembak nyeleneh tentunya.

Film serba nyeleneh ini tidak juga lepas dari kritik. Secara cerita ditemukan banyak kelemahan karena material yang ada hanya opening dari penciptaan karakter hero ini. Temponya sangat cepat hingga tidak terasa bahwa durasinya memakan 108 menit. Semua tertupi akibat komedi yang disampaikan oleh Miller. Film ini buat saya pribadi tidak menyisakan banyak bekas kecuali jokes segarnya.


Deadpool | 2016 | Durasi: 108 menit | Sutradara: Tim Miller | Produksi: 20th Century Fox | Negara: USA | Pemeran: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J Miller, Ed Skrein, Karan Soni

Resensi Film Pendek “Bubar, Jalan!” : Potret Anak-anak dalam Prosesi Upacara Bendera

Berbicara mengenai peran anak-anak dalam film pendek di Indonesia, rasanya masih begitu jarang digali karena kebanyakan mereka hanya direpresentasikan sebagai tokoh pendamping yang polos atau lagi-lagi hanya bermain dengan sekedar isu moral, seperti The Flowers and the Bee oleh Monica Vanesa Tedja yang mengangkat tema seksualitas dalam kacamata anak-anak. Berbanding dengan itu tidak ada salahnya padahal menjadikan tokoh anak-anak sebagai pribadi yang jenaka tanpa selalu melulu menyandingkannya dengan berbagai fenomena sosial. Senoaji Julius, misalnya. Melalui Gazebo dan 2b, ia bercerita mengenai potret anak dalam masa sekolah yang penuh imajinasi dan komedi. Resepnya sederhana: make-it-believe kepada para penonton. Ia juga tidak lupa untuk melakukan pendalaman karakter yang harus diakui sangat luar biasa.

Hal itu pula yang setidaknya berusaha dilakukan oleh Gerry Fairus Irsan. Dalam Bubar, Jalan! ia memperkenalkan komedi visual nyaris tanpa dialog, bermain melalui teknik penyuntingan gambar serta bertaruh dengan resep make-it-believe di film pendek terbarunya itu. Uniknya, pembuat film ini meletakkan lahan sempit untuk bercerita, yaitu prosesi upacara bendera oleh murid sekolah dasar dengan berbagai macam realitas yang ditangkap oleh kamera senyata-nyatanya.

Bubar, Jalan! bercerita tentang Ahong – seorang anak laki-laki yang bertugas untuk memimpin upacara bendera. Ia merasa tertekan dengan tanggung jawab yang dipikulnya itu. Entah dari sering buang air, kaki gemetaran, dan banjir keringat selama upacara berlangsung. Sepanjang perjalanan, disuguhkan bagaimana ia harus melawan rasa paniknya, ditonton oleh ratusan murid dan guru yang tampak menjadi ketakutan tersendiri baginya.

Realita prosesi upacara bendera

Menariknya pembuat film tidak sekedar ingin mempertunjukkan bagaimana satu anak manusia harus mengendalikan rasa takutnya masih ada potret anak-anak hadir untuk sekedar memperlihatkan bagaimana kisah masa sekolah dasar mereka. Contohnya, adegan dimana dua murid bersembunyi di dalam toilet untuk melarikan diri dari prosesi upacara bendara. Hal-hal lumrah yang sering dilakukan oleh kita yang malas untuk berpanas-panasan di lapangan. Atau, bendera yang tengah dikibarkan oleh pasukan pengibar dalam posisi terbalik .

Menarik juga sebenarnya apa yang berusaha ditawarkan dalam film pendek berdurasi kurang lebih sepuluh menit ini. Sayangnya, Gerry Fairus Irsan masih kurang melakukan pengamatan dalam usaha mempertontonkan tingkah jenaka anak-anak kala berada di kegiatan pengibaran bendera itu. Eksekusinya serba nanggung baik dari segi cerita maupun komedinya. Masih banyak hal yang dapat dieksplorasi sesungguhnya pada lahan sempit itu justru itulah tantangannya. Sepuluh menit sepertinya durasi yang sangat singkat dengan cerita sepotensial bubar, Jalan!.

Kita bisa melihatnya melalui karya Senoaji Julius, Gazebo yang menggunakan lahan sempit untuk bercerita juga, yaitu perpustakaan sekolah. Atau, Lembar Jawaban Kita milik Sofyana Ali Bindiar dengan kritikannya terhadap pelaksanaan ujian nasional di Indonesia. mereka berdua berani untuk keluar jalur dari realitas yang ‘nyata’ dengan maksud bermain-main dalam penuturan di filmnya, seperti Gazebo misalnya, mempertunjukkan bagaimana para anak-anak SD berlayar di atas meja ataupun berperangan ala Amerika dengan suku Indian. Atau juga, teknik-teknik menyontek yang dilakukan oleh murid sekolah dalam Lembar Jawaban Kita yang dirasa mustahil dan tidak mungkin dilakukan. Namun, kedua pembuat film itu mampu membuat penonton percaya akan imaji yang mereka tawarkan. Dan itulah yang belum dapat ditemukan pada Bubar, Jalan!.

Pendalaman karakter pun masih belum potensial. Sebaris pertanyaan terbesar ‘kenapa pemimpin upacara bendera itu bernama Ahong?, memiliki ras tionghoa?, dengan kata lain bukan pribumi?’. Apa yang sesungguhnya berusaha diberikan oleh Gerry selaku sutradara pada filmnya. Walaupun penokohan Ahong sebagai ras tionghoa bukanlah isu sentral dalam Bubar, jalan! namun masalah terbesarnya ketika pertanyaan ‘kenapa’ itu tidak dapat terjawab melalui filmnya. Atau sebenarnya semua hanya kebetulan belaka saja atau bisa jadi merupakan curhatan personal dari si pembuat film.

Meski begitu bukan berarti Bubar, Jalan! gagal dalam segala eksekusinya. Secara keseluruhan, film pendek ini bisa menaruh hati bagi para penonton yang telah dewasa untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa pengibaran bendera mereka apalagi bagi mereka yang mengalami nasib serupa dengan Ahong.

Gerry Fairus Irsan telah berani mengambil risiko untuk membuat film yang jarang dilirik oleh pembuat film lainnya,  Berani menempatkan tema unik untuk diceritakan adalah salah satu bekal yang berarti bagi rekam kesejarahan film pendek di Indonesia. Bubar, Jalan! akhirnya tampak sebagai sebuah film eksperimental: bermain-main dari segi cerita, teknis dan penuturannya.


Bubar, Jalan! | 2015 | Durasi: 10 menit | Sutradara: Gerry Fairus Irsan | Produksi: Rumahku Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Ivan Fauzan, Nastiar F, Mohammad Aditya.

Film Goosebumps (2015) – Review

Film Goosebumos diadaptasi dari buku seri horor remaja berjudul sama karangan R.L Stine ini tidak seperti kebanyakan film adaptasi lainnya, Goosebumps membuat jalan cerita berbeda dengan memanfaatkan bermacam karakter monster di dalam bukunya dengan karakter Stine sebagai tokoh utama. Film ini diarahkan oleh Rob Letterman yang sebelumnya telah dikenal dengan Gulliver’s Travels yang juga dibintangi Jack Blake.

Film The Little Prince (2015) – Review

Seorang gadis kecil (The little girl) bersama ibunya (The mother) terdiam di sebuah ruang tunggu. Momen itu menjadi hal penting bagi mereka berdua karena si gadis kecil akan mempresentasikan dirinya dihadapan para petinggi akademi agar dapat masuk di sebuah sekolah terkenal. Ketika proses presentasi, satu pertanyaan terlontar mengenai keinginan apa yang hendak dicapainya ketika dewasa kelak. Bingung sang gadis jatuh pingsan saat itu juga.

Film Parasyte Part I dan II (2015) – Review

Shinichi Izumi yang tengah terlelap mendadak terbangun ketika suatu mahluk berbentuk cacing mendarat di tubuhnya, berusaha melarikan diri namun mahluk tersebut ternyata dapat memasuki tubuhnya melalui sel kulit tangannya. Keesokan harinya, semua yang dianggapnya mimpi sirna seketika lantaran tangan kanannya telah bermutasi menyerupai kepiting dengan satu bola mata.

Film Victoria (2015) – Review

Baru setahun lalu kita dihadirkan dengan karakter Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton), seorang aktor panggung Broadway yang berusaha menghidupkan popularitasnya pada film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Film tersebut mampu membuat decak kagum saya sebagai penonton dengan gaya sinematografi tidak biasa, yaitu film yang hampir menyerupai adegan tanpa cut sama sekai dengan genre magical realism. Tata sinematografinya sendiri diarahkan oleh Emmanuel Lubezki (sebelumnya terlibat dalam proyek Gravity). Tetapi apa jadinya bila kali ini ada benar-benar ada film yang dibuat dengan proses pengambilan gambar tanpa cut sama sekali?

Serial Sense8 (2015) Seasons 1 – Review

Serial Sense 8 memulai cerita dari wanita bernama Angelica (Daryl Hannah) yang hanya memiliki waktu terbatas maka dengan ditemani oleh Jonas Maliki (Naveen Andrews), ia dengan entah bagaimana caranya menampakkan dirinya di berbagai tempat di belahan dunia pada waktu yang sama. “They’ll be hunted…born or unborn. You can give them a fighting chance”, ucap Jonas kepada Angelica. Delapan orang terpilih telah dilihatnya dan mereka pun mampu melihat sosoknya. Tidak beberapa lama kemudian sesosok laki-laki berjanggut putih muncul di belakangnya berlanjut dengan Angelica menembak kepalanya sendiri dan seketika hilanglah sosok Jonas maupun pria misterius di sampingnya. Dengan scoring intensei thrill ini adalah enam menit tiga puluh tiga detik pertama pembukaan pada episode pilot serial Sense8 dengan judul episode ‘Limbic Resonance’.