Press "Enter" to skip to content

Tag: Resensi Film

Film Marlina The Murderer in Four Acts (2017) – Review

Marlina The Murderer in Four Acts mempersembahkan kisah seorang janda yang ditinggal mati suaminya tiba-tiba, melalui empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang membawa dirinya lebih jauh mengenal ketimpangan hubungan relasi kuasa atas gender. Mouly Surya, selaku sutradara menghadirkan kisah penuh dendam yang diselimuti budaya patriarki dibalik visual luas nan indah di Sumba, Nusa Tenggara.

Film ini mengisahkan Marlina (Marsha Timothy), perempuan paling beruntung di dunia, tidak hanya dicuri semua ternaknya namun hendak ditiduri pula oleh tujuh pria dalam satu malam. Tak mau pasrah pada nasib, ia nekat meracuni mereka, sayangnya, Markus (Egi Fedly), sang ketua perampok keburu memperkosanya. Maka, sebilah parang melesat menembus lehernya, ketika Marlina tepat berada di atas tubuhnya.

Merasa perlu mencari keadilan, Marlina menenteng kepala Markus dengan maksud ke kantor polisi. Dalam penungguannya, ia bertemu dengan Novi, seorang perempuan yang tengah hamil sepuluh bulan.

Kesemerawutan Hidup Perempuan

Dalam babak kedua The Journey, tokoh Novi (Dea Panendra) menjadi sentral melalui dialog sensual yang menggambarkan seksisme begitu kental dalam budaya masyarakat Sumba dan berlaku pula di Indonesia secara general. Disini, Novi menyampaikan kegelisahannya soal perempuan dan birahi. Karakternya dengan lugas menuturkan nafsu seksualnya meningkat dikala sedang hamil muda lalu sering dikritik ibu mertua mengenai wanita tidak boleh begini dan begitu. Novi menjadi sosok yang melawan seksisme atas dirinya dengan mengambil hak-hak dan keinginan pribadinya.

Walaupun begitu, ia masih naif ketika Marlina berkisah dirinya habis diperkosa. Novi bergegas mengajaknya ke gereja untuk mengaku dosa sementara Marlina tak merasa dirinya berdosa. Perdebatan ini menjadi penting untuk didiskusikan dengan melihat dari sudut pandang penyintas dan orang luar. Apakah Marlina berdosa telah membunuh Markus? Apakah ia bersalah atas apa yang ia lakukan? Alih-alih memberikan pembenaran atau penghakiman kepada tokoh Marlina, Mouly Surya bermain-main dengan surealisme, melalui serangkaian adegan dari representasi rasa bersalah, ketakutan ataupun kegelisahan Marlina atas perbuatannya kepada Markus.

Maka, sampailah dia pada babak The Confession yang berujung kesia-siaan.

Wanita sejak lahir memang kadung sial, mungkin itu yang hendak disampaikan dalam babak ini. Sejak awal, dialog ditekankan bahwa pemerkosaan itu bisa dinikmati tidak hanya pelaku namun korbannya pula. Marlina terperanjat ketika polisi yang meng-interograsinya membutuhkan hasil visum kekerasan seksual. Keterkejutan ini bisa jadi terhubung dengan adegan pemerkosaan, ia berada dalam posisi women on top atau mengambil alih kegiatan seksual dengan menjadi pihak dominan sementara kasus pemerkosaan kental dengan unsur kekejaman atau sadisme.

Disini hukum Indonesia dikritik atas aksi pemerkosaan harus selalu meninggalkan bekas legam di tubuh korbannya. Padahal pelecehan seksual tidak hanya berkutat pada hal-hal yang violence tapi bisa meliputi tindakan yang disebut Sexual Coercion. Menilik kebelakang, peristiwa Marlini ini bisa diakui kebenarannya dengan melihat berita tempo silam dimana proses penyidik mewawancarai penyintas pemerkosaan dengan membubuhkan diksi ‘nyaman’. Sebobrok itukah hukum di Indonesia terhadap perempuan? Secara eksplisit, Mouly Surya menyampaikannya pada adegan Marlina menanti di ruang tunggu dengan para polisi asik bermain tenis tanpa memperdulikan dirinya.

Adegan kelahiran dan pembunuhan terakhir menjadi penutup pada babak The Birth. Novi dan Marlina menyelamatkan satu sama lain, menunjukan kuasa perempuan yang tidak membutuhkan laki-laki untuk membela diri. Pengulangan adegan terjadi ketika Novi memenggal kepala Franz (Yoga Pratama) yang tengah memperkosa Marlina. Novi terbebas dari penjara moralitas ketika dihadapkan pilihan rumit: diam atau melawan.

Pada adegan yang sempit kala Novi tengah menjalani persalinan, sosok suami Marlina yang dimumikan menjadi representasi penting mengenai kedudukan laki-laki yang sejatinya tidak berdaya dengan kemaskulinitasannya.

Marlina The Murderer in Four Acts memang jelas bisa dikategorikan sebagai film feminis, bentuk respon atas tindakan opresi pada perempuan yang diindikasikan oleh diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan. Semua karakter perempuannya kuat dan berani dalam bertindak ataupun bertutur ditengah-tengah tekanan budaya partiarki.

Film HEADSHOT (2016) – Review

Tujuh tahun telah berlalu sejak pertama kali Rumah Dara (2009) ditayangkan di layar sinema Indonesia, semenjak itu pula nama ‘The MO Brothers’ (sebutan duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) semakin dikenal khalayak luas. Nuansa film mereka yang penuh darah dan ‘sakit jiwa’ adalah ciri khasnya. Maka, Headshot (2016) sudah jelas ditunggu-tunggu bagi mereka para penggemar yang kangen dengan ‘mandi darah’ dan jelas kerinduan itu telah dibayar tuntas. Dari awal hingga akhir baku hantam seakan tidak berhenti terus menerus, penonton tidak sekalipun dibiarkan bernapas sama halnya dengan Don’t Breath (2016) atau You’re Next (2013).

Tetapi anehnya tidak terlalu banyak yang dapat dibicarakan dari Headshot (2016), selain kebrutalan bertubi-tubi ibarat roller coaster yang membuat jantung berdetak tidak karuan. Ketika keluar dari bioskop, detakan itu malah terlupakan hingga tidak tersisa sama sekali di permukaan. Lantas satu pertanyaan tersisa, “ada apa dengan ‘The MO Brothers’?”.

Dara (Shareefa Daanish)- Rumah Dara (2009)
Rumah Dara (2009)

Sepak terjang ‘The MO Brothers’ paling fenonemal dimulai dari Rumah Dara (2009), sebuah film bergenre slasher yang saat itu belum dilirik oleh pasar perfilman Indonesia namun mampu menembus dan mencetak banyak penonton serta menorehkan berbagai adegan yang tidak akan dapat dilupakan. Shareefa Daanish, dengan gilanya dapat memerankan tokoh Ibu Dara, seorang pembunuh berdarah dingin dan kanibal. Hal-hal berkesan, seperti tusuk konde sebagai alat membunuh hingga pekikan jeritan “Enak Kan ?!” menjadi momen terngehe. Mau dikatakan menyerupai The Texas Chainsaw Massacre (1974) pun tidak tega karena ini film level B yang bisa jadi cult. Satu keluarga terjebak di rumah yang berisikan pembunuh berdarah dingin sudah menjadi premis untuk berpuluh-puluh film bergenre serupa. Hematnya, ‘The MO Brothers’ berhasil menjadikan Rumah Dara tidak ‘ke-hollywood-an’ namun masih menyentuh suasana lokal dengan gaya belanda dan pemujaan setannya. Jelas, akhirnya saya menanti film mereka selanjutnya.

VHS 2 - Segment 'Save Haven'
VHS 2 – Segment ‘Safe Haven’

Tapi tampaknya saya harus bersabar karena untuk melihat kolaborasi mereka berdua tidak akan dalam waktu dekat. Butuh waktu lima tahun untuk menonton kembali karya mereka tetapi setidaknya VHS 2 (2013) berhasil menyembuhkan rasa rindu saya dengan terlibatnya Timo Tjahjanto dan Gareth Evans dalam segmen ‘Safe Haven’, menceritakan dokumenter tentang kelompok aliran sesat yang terrnyata hendak memanggil iblis ke bumi. Adegan ngehe kembali muncul, dimulai dari bunuh diri massal dengan menembakkan diri secara berbarengan hingga Epy Kusnandar yang meledakkan dirinya hingga tercerai berai. Banjir darah dimana-mana rasa Rumah Dara (2009) kental begitu ada. Perpaduan Timo dengan Gareth ternyata bekerja sangat efektif.

Killers (2014)
Killers (2014)

Maka, kemunculan Killers (2014) jelas ditunggu-tunggu. ‘The MO Brothers’ kembali muncul dengan membawa embel-embel kisah psikologi thriller. Bayangkan sebuah drama thriller yang pasti akan berdarah-darah dan ‘sakit’nya pasti keterlaluan walaupun membayangkan akan menyerupai Oldboy (2003) jelas masih tidak mungkin setidaknya banyak harapan untuk film yang berkolaborasi dengan negara Jepang ini. Menceritakan Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura) dan Bayu Aditya (Oka Antara), terpisah jarak ribuan kilometer namun terhubung oleh minat yang sama, membunuh. Namun menariknya, film kedua kolaborasi antara Timo dan Kimo sama sekali tidak memiliki tendensi mengikuti jejak dari pendahulunya, yaitu Rumah Dara. Ceritanya jauh berbeda, tidak lagi sekedar adu bacok melainkan adu otak. “The MO Brothers” tampaknya berusaha mati-matian membuktikan bahwa mereka dapat membuat film berkelas. Dan mereka berhasil. Walau masih bermain di jalur aman, Killers tetap dapat dinikmati iramanya dengan banyak adegan super ngehe yang gila juga – walau terkadang mengingatkan saya akan referensi beberapa film serupa.

screen-shot-2016-12-10-at-10-04-23-pm
Headshot (2016)

Dua tahun kemudian, Headshot (2016) muncul dengan lagi-lagi seperti film pendahulu ‘The MO Brothers’ berhasil membawa penghargaan dan apresiasi di kancah perfilman internasional. Bercerita mengenai Ailin (Chelsea Olivia), dokter magang yang merawat Ishmael (Iko Uwais), pria misterius yang amnesia dan ternyata memiliki ikatan dengan Mr. Lee (Sunny Pang), gembong kriminal paling ditakuti yang menculik anak-anak kecil lalu dicuci otaknya dan dijadikan pembunuh berdarah dingin.

Selepas menonton Headshot saya merasakan bahwa film ini tampak berada di bayang-bayang The Raid 2 (2014), secara alur cerita dan karakter. Walau ‘The MO Brother’ telah melakukan hal paling hebat, yaitu melepas karakter Rama pada Iko Uwais dengan menjadikannya sosok berbeda melalui tokoh Ishmael/Abdi. Beberapa dialog terkesan tidak natural dan kedekatan antara Ailin dan Ishmael juga kurang terbangun. Motifnya tidak jelas dan beberapa babak berasa tidak beraturan.

Durasi nyaris dua jam memang tidak terasa sama sekali mengingat adegan baku hantam yang berdarah tidak berhenti-henti disajikan. Sepanjang menonton dipastikan kata hardikan selalu keluar karena temponya yang cepat sekali dan muncratan darah dimana-mana. Sayangnya, ‘The MO Brother’ kurang bisa memaksimalkan frekuensi drama antara Ailin dan Ishmael juga hubungan Ishmael dengan Mr. Lee dan Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), serta Besi (Very Tri Yulisman). Semuanya jadi serba nanggung, ‘The MO Brother’ tampak tergesa-gesa dan seolah-olah hanya ingin mempertunjukkan adegan silat dan baku tembak saja dengan melupakan memanusiakan para karakternya. Akhirnya, saya selaku penonton tidak memiliki kedekatan dengan para karakter juga ceritanya.

Padahal Headshot memiliki potensi besar sebagai film dwilogi atau trilogi macam Kill Bill. Karakter Ailin yang berlatar belakang dokter tampak kurang dikembangkan, saya agak berharap di penghujung film, dia menjadi sosok bad-ass yang dapat membunuh mengingat kemampuannya sebagai dokter. Banyak hal yang sepertinya dapat digali lebih dalam oleh ‘The MO Brothers’. Pastinya yang jelas saya rindu dengan karakter-karakter ngehe yang tidak dapat dilupakan dan saat ini hanya dapat ditemukan dalam sosok ‘Ibu Dara’. Sebagai film akhir tahun, ‘The MO Brothers’ berhasil melakukan hal yang gila dengan menutup tahun ini dengan banjir darah bertabur aksi yang mencenangkan.


Headshot (2016) |  Durasi : 117 menit | Sutradara : Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel | Negara : Indonesia | Pemeran : Iko Uwais, Chelasea Islan, Sunny Pang, Julie Estelle, David Herndrawan, Zack Lee, Very Tri Yulisman

Film Don’t Breath (2016) – Review

Fade Alvarez sekali lagi membuktikkan bahwa ia seorang masterpiece untuk film bergenre thriller, setelah sebelumnya berkreasi dengan remake Evil Dead (2013) yang dipenuhi galonan darah. Kali ini, Alvarez membuat alterego dari Daredevil, sebagai wujud kakek tua renta veteran militer yang rumahnya dijadikan target perampokan oleh tiga orang ‘anak baru gede’.

Cerita bermula tatkala Money (Daniel Zovatto) menemukan informasi mengenai alterego Daredevil (Stephen Lang) – The Blind Man yang memiliki sejumlah uang jutaan dolar di dalam rumah tua nya. Maka, Rocky (Jane Levy) dan Alex (Dylan Minnette) turut serta bergabung dalam aksi perampokan yang nantinya akan dipenuhi aksi mematikan dan permainan petak umpet sepanjang sembilan puluh menit.

Setting : Berbicara mengenai setting tempat di rumah tua, nampaknya Alvarez belum mau move on dari Evil Dead dan senang mengeksplorasi bagaimana rumah dijadikan sebagai tempat kejadian perkara. Dengan memanfaatkan ruang sempit dan satu lokasi, tentunya sesak napas dan kejar-kejaran semakin bikin jantung memburu, sepanjang film rasanya memang sulit untuk bernapas selama menonton Don’t Breath.

Karakter : Ini kisah dua anak yang tidak bahagia dengan kehidupannya ditambah satu anak yang masih pubertas dan ingin ikut nakal. Mengenai pendalaman karakter, aksi segerombolan pencuri amatir berhasil dimainkan dengan baik oleh Zovatto, Levy dan Minnette. Walau dirasanya telalu cepat mengakhiri karakter Zovatto, dan sudah dipertunjukkan terlebih dahulu pula di trailer-nya. Karena berhubung sepanjang film para karakter ini hanya bermain petak umpet, jadi tidak terlalu masalah dengan karakter yang tipis dan tampak ‘just regular people trapped in a fucked up stupid situation” walau tetap yang mencuri perharian adalah Levy dan Lang sendiri. Lang sebagai pria buta dengan suara nge-bass membikin semakin getir dan panas saja menonton film ini.

Story : Yang paling membuat kejutan adalah twist-nya yang membuat darah semakin mendidih. Ketika sepanjang lima puluh menit awal Rocky dan Alex berusaha bermain petak umpet dengan si pria buta, ternyata diketahui si buta ini juga kriminal yang menyekap seorang wanita (pelaku penyebab tewasnya anak si buta) ; horor semakin menjadi-jadi ketika adegan memasuki mode night vision – terlalu banyak adegan yang membikin sesak napas, brutal, dan menegangkan.

Alvarez tahu betul cara mempermainkan horor thrill. Sensasi klaustrofobia dan rasa frustasi yang mencekam berhasil masuk ke dalam setiap frame adegan di Don’t Breath. Salah satu film yang bisa dijadikan rujukan adalah You’re Next, dengan setting yang sama, cerita yang sama, tetapi lebih brutal, sadis dan mengerikan. Setidaknya tahun ini, Don’t Breath masuk ke dalam jajaran list film memorable.

Don’t Breath (2016) |  Durasi : 88 menit | Sutradara : Fade ALvarez | Negara :USA | Pemeran : Stephen Lang, Jade Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto

Film Restorasi Tiga Dara (1987) – Review

Setelah Lewat Djam Malam, ada Tiga Dara yang berhasil direstorasi dan kembali dipertontonkan kepada publik. Keduanya adalah film Usmar Ismail, meski berada di tangan yang sama namun jauh dari kata serupa. Usmar Ismail sendiri menonjol sebagai pelopor film Indonesia dengan film pertamanya Darah dan Doa – yang diakui sebagai film pertama, diproduksi oleh Perusahaan Film Indonesia (Perfini) yang juga memproduksi dua film yang kini telah direstorasi dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Menariknya, estetika dari Tiga Dara sangatlah berbeda dari dua film Usmar Ismail sebelumnya, disebabkan Perfini mengalami krisis keuangan sehingga mau tidak mau Usmar Ismail harus kompromi membuat film komersil yang jauh dari visinya dalam memproduksi film.

Film Goosebumps (2015) – Review

Film Goosebumos diadaptasi dari buku seri horor remaja berjudul sama karangan R.L Stine ini tidak seperti kebanyakan film adaptasi lainnya, Goosebumps membuat jalan cerita berbeda dengan memanfaatkan bermacam karakter monster di dalam bukunya dengan karakter Stine sebagai tokoh utama. Film ini diarahkan oleh Rob Letterman yang sebelumnya telah dikenal dengan Gulliver’s Travels yang juga dibintangi Jack Blake.

Film The Little Prince (2015) – Review

Seorang gadis kecil (The little girl) bersama ibunya (The mother) terdiam di sebuah ruang tunggu. Momen itu menjadi hal penting bagi mereka berdua karena si gadis kecil akan mempresentasikan dirinya dihadapan para petinggi akademi agar dapat masuk di sebuah sekolah terkenal. Ketika proses presentasi, satu pertanyaan terlontar mengenai keinginan apa yang hendak dicapainya ketika dewasa kelak. Bingung sang gadis jatuh pingsan saat itu juga.

Film Victoria (2015) – Review

Baru setahun lalu kita dihadirkan dengan karakter Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton), seorang aktor panggung Broadway yang berusaha menghidupkan popularitasnya pada film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Film tersebut mampu membuat decak kagum saya sebagai penonton dengan gaya sinematografi tidak biasa, yaitu film yang hampir menyerupai adegan tanpa cut sama sekai dengan genre magical realism. Tata sinematografinya sendiri diarahkan oleh Emmanuel Lubezki (sebelumnya terlibat dalam proyek Gravity). Tetapi apa jadinya bila kali ini ada benar-benar ada film yang dibuat dengan proses pengambilan gambar tanpa cut sama sekali?